“Polisi Kita” Dalam Genggaman, Hidup di Yogya Semakin Nyaman

Polisi Kita Jogja

www.daroelazis.com Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memang selayaknya turut menyumbang kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses pelayanan publik. Tak terkecuali layanan keamanan, kenyamanan, dan kondusifitas lingkungan yang dalam hal ini diberikan oleh aparat kepolisian. 

Sebagai contoh misalnya, masyarakat ingin dimudahkan ketika ingin melaporkan kondisi terkini atau peristiwa yang tengah terjadi di lingkungannya, baik yang hanya bersifat informatif maupun yang bersifat memerlukan penanganan segera dari pihak kepolisian. Terlebih saat ini kehidupan kita sudah sangat dekat dengan gawai, maka niscaya kita juga ingin hal tersebut bisa dilakukan hanya melalui gawai, sehingga tidak perlu harus datang langsung ke kantor Polsek atau Polres yang mungkin jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal kita. 

Diluncurkan pertama kali di DIY pada Agustus 2016 lalu, Polisi Kita” hadir sebagai solusi kebutuhan kita sebagai masyarakat digital. Aplikasi berwujud media sosial ini dapat semakin memudahkan masyarakat dalam menyampaikan kejadian, mulai dari tindak kriminalitas, pelanggaran lalu lintas, hingga gangguan keamanan dan kenyamanan lingkungan. Aplikasi berbasis android yang bisa diunduh secara gratis di Google Play Store ini juga telah dilengkapi dengan data Polres dan Polsek di wilayah DIY, plus fitur panggilan dan laporannya. 

Aplikasi Polisi Kita
Fitur Laporkan dan menu Call Aplikasi Polisi Kita

Untuk melaporkan kejadian kepada kantor kepolisian terdekat, kita dapat menggunakan dua fitur utama, yakni “Laporkan!” dan “Call”. Fitur “Laporkan” digunakan untuk melaporkan kejadian yang dilengkapi dengan foto atau yang lebih bersifat informatif. Sedangkan fitur “Call” bisa digunakan untuk melakukan panggilan karena situasi sedang darurat dan memerlukan penanganan segera.

Di aplikasi ini kita juga dapat mengecek laporan yang telah kita buat, untuk mengetahui kejadian tersebut sudah diproses atau belum. Dan jika di kemudian hari laporan tersebut dibutuhkan untuk keperluan penyidikan, laporan kita akan bisa dijadikan sebagai salah satu barang bukti. Aplikasi ini juga memungkinkan masyarakat untuk lebih dekat dengan jajaran kepolisian atau elemen masyarakat lain, karena seperti lazimnya media sosial, di sini kita juga bisa saling berkomentar atas kiriman pelapor lain.

Tak hanya itu, aplikasi ini juga sudah dilengkapi dengan berbagai macam informasi yang berhubungan dengan pelayanan kepolisian seperti informasi persyaratan pendaftaran sekolah polisi, pembuatan SIM, pembuatan SKCK, pengurusan perizinan keramaian, rasionalisasi BPKB, hingga informasi pengurusan kepemilikan senpi, peluru karet dan gas. Sehingga kita tak perlu lagi mencari informasi tersebut melalui mesin pencarian dan menghabiskan banyak kuota data internet. Bahkan melalui aplikasi ini pula, kita sudah bisa mengurus SKCK. 

Fitur Informasi Aplikasi Polisi Kita

Ketika artikel ini ditulis, terdapat sebuah laporan dari pemilik akun bernama Sony Nanggala terkait telah diamankannya segerombolan orang yang sedang membawa senjata tajam oleh Polsek Banguntapan di Pintu Masuk BLPP, dengan status laporan “Telah Diterima”. Pada laporan lain, pemilik akun bernama Sunarto mengirimkan sebuah foto suasana rapat warga yang dihadiri oleh Bhabin Kamtibmas Desa Triwidadi Pajangan Bantul Aiptu Ngadiman, membahas pemberian tanah wakaf untuk makam Dusun Blebak Triwidadi Pajangan Bantul. 

Secara pribadi saya menilai aplikasi ini sudah cukup efektif dan mulai banyak digunakan masyarakat DIY. Kini giliran Anda untuk memilikinya, sebagai wujud partisipasi menciptakan kehidupan yang aman dan nyaman di kota nan istimewa ini. 


Mengiklankan Iklan

Jam Belajar Masyarakat Dilarang Menonton Televisi
Ilustrasi/Cilacapmedia

www.daroelazis.com Dalam beberapa waktu belakangan ini saya menerima banyak pertanyaan dari teman-teman saya ihwal kiriman status dan foto di beranda Facebook. "Kamu kenapa?", "Kok statusnya kayak gitu sih?'', "Maksudnya apa e?", dan pertanyaan sejenis yang tentu saja membuat saya gelagapan untuk menjawabnya. Bahkan kemudian ada salah seorang teman yang mengira saya sedang mencari sensasi. Duh...masa' gitu aja dianggep cari sensasi, sih? 

Namun akhirnya saya memaklumi keheranan mereka. Toh memang sebelumnya saya tidak pernah membuat kiriman seperti itu. Saya juga tidak membuat pengumuman bahwa saya akan mengirim status dan foto-foto semacam itu. Lagi pula, kiriman status dan foto di beranda Facebook saya memang terkesan aneh. hehe

Betapa tidak, saya mengirim potret iklan, poster, dan tulisan-tulisan lain yang sumpah demi apa memang sangat-sangat tidak penting. Remeh dan nyaris tiada guna. Sehingga tidak mengherankan jika kemudian agak terasa ganjil ketika ada seseorang yang menyetatuskannya. Dan seseorang itu adalah saya--yang mungkin juga jadi tampak aneh pula. haha 

Tapi untuk semua itu, saya punya alasan. Saya tertarik dengan iklan, poster, dan tulisan-tulisan itu karena saya menangkap ada nilai dan keunikan tersendiri, yang mungkin bagi orang lain itu semua bukanlah suatu hal yang istimewa dan perlu diperhatikan. Keunikan itu adalah berupa pemilihan kata, kalimat, bahasa, rima, jenis huruf, cara penulisan, media yang digunakan, dan cara penyampaian yang kebanyakan sangat singkat, sederhana dan apa adanya. "Ngebut benjut!", "Hormati jam belajar masyarakat", "Dilarang parkir di depan pintu!", "Buanglah sampah pada tempatnya!", "Dilarang merokok", "Dikontrakkan, tanpa perantara", "Telat haid? Hubungi nomor ini", "Perbesar/perkecil, Bisa sampai 5 cm", adalah kalimat-kalimat yang berhasil mengundang decak kagum saya. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah iklan sedot WC. Anda bisa membaca ulasannya di sini

Tak hanya itu. Melalui iklan, poster, dan tulisan-tulisan itu, saya menemukan sesuatu hal yang cukup mencengangkan.

Begini......

Kita begitu sering melihat poster "Buanglah pada tempatnya. Jagalah kebersihan karena kebersihan sebagian dari iman." Poster semacam itu sangat mudah kita temukan, di pelbagai sudut tempat. Namun mengapa  justru di tempat itu pula, masih banyak sampah yang dibuang sembarangan?

Dalam postingan sebelumnya, saya juga menyinggung soal peringatan agar pengguna menyiram kotorannya seusai membuangnya di kakus, namun apa yang terjadi kemudian? Ternyata bau pesing, tahi yang masih mengambang, dan tisu bekas masih saja ada.

Kita begitu sering melihat tulisan "Belok kiri jalan terus." Namun anehnya ada begitu banyak orang yang dengan seenak hatinya berhenti di bagian sisi kiri jalan sehingga menghalangi pengendara lain yang akan belok kiri.

Kita juga begitu sering melihat tulisan "Pelan-pelan banyak anak-anak.", "Anda sopan kami segan.", "Hormati jam belajar masyarakat.", dan tulisan "Dilarang membuang sampah di sini!". Tapi mengapa tulisan-tulisan itu seakan tak pernah diindahkan?

Hehe...kalau begitu seperti kita memang perlu belajar memperhatikan hal-hal sederhana semacam itu. Jika terhadap poster-poster sederhana saja enggan membaca dan mengindahkan, lantas bagaimana dengan teks-teks yang terdapat dalam buku-buku tebal dan kitab suci?

ICJ dan Kisah Pertemuan Dua Sahabat Lama yang Terputus Kontak Selama 30-an Tahun

Ilustrasi via Shutterstock.com

www.daroelazis.com ~ Ini adalah catatan kedua saya tentang grup Fesbuk Info Cegatan Jogja. Catatan pertama saya yang berjudul Berbahagia Bersama Info Cegatan Jogja bisa Anda di sini. Kekaguman saya terhadap (member) grup, menghadirkan begitu banyak alasan bagi saya untuk terus mengamati, merekam, dan menarasikannya kepada Anda betapa menariknya grup Facebook berslogan "Salam Aspal Gronjal" tersebut. 

Peristiwa terakhir yang sengaja saya catat adalah tentang bertemunya dua sahabat lama yang terputus komunikasi selama kurang lebih 30 tahun lamanya. Berikut saya kutipkan kirimannya. 
Malem pak Antok dan member2 ICJ lainnya. Saya dimintai tolong bapak saya mencari sahabate yg udh 30an tahun terputus kontak. Dulu tahun 84-85 bpak saya kuliah di pertanian UGM, ada sahabatnya bernama WAWAN, punya kakak namanya SIGIT, dan adek namanya RINI, semua kuliah di UGM. Orang tuanya dulu guru kata bapak saya, tapi lupa namanya. Dulu bapak saya, Sigit dan Wawan kost di Blimbing Sari tempat IBU MAMAT. Kata bapak saya juga, dulu dari kost ke rumahnya sekitar 30 menit, nurutin irigasi (mungkin selokan mataram). Nama daerahnya ada "kring" tapi udh lupa. Monggo yg tau atau kemungkinan paham silakan comment atau inbox saya. Terimakasih sebelumnya.#Update : kemungkinan umurnya 55-60#Update : dulu kata bpak saya temene itu termasuk pinter2, masuk UGM kyak tanpa tes. Bapakku juga bilang yg namanya sigit dan wawan titlenya insinyur kalau lulus. (Kiriman Ahmad Revi Nasution)
Bagi saya ini sangat menarik, mengingat menyangkut hal yang sangat sentimentil, yakni persahabatan, kerinduan, dan kenangan. Anda bisa bayangkan sendiri betapa bahagianya dua sahabat yang sudah 30 tahun lamanya tidak bertemu dan putus kontak, lalu dapat bertemu kembali di saat-saat mereka telah menimang cucu. Saya yakin, air mata, kata-kata, dan pelukan saja bahkan tak akan cukup mewakili kebahagiaan mereka. Sebab kebahagiaan yang mereka rasakan sungguhlah tiada tara. 

Saat saya menulis ini, saya tengah membayangkan kedua sahabat tersebut tengah duduk bersama di beranda rumah sambil meminum teh nasgitel dan ngemil kudapan. Berbagai topik perbincangan terus-menerus bermunculan. Kisah-kisah masa lalu semasa kuliah pun terangkat kembali. Mungkin tentang orang yang dulu ditaksir, tentang tugas kuliah yang jelas lebih sulit diselesaikan daripada sekarang, tentang dosen yang benar-benar killer, dan tentu tak lupa tentang suasana Jogja tempo dulu, lengkap dengan berbagai romantikanya. Sesekali, cucu salah satu di antara mereka datang dan menggelendot manja. Lalu muncul pulalah cerita-cerita tentang keluarga mereka masing-masing. Sekarang anaknya kerja di mana, cucunya sekolah di mana, dan lain sebagainya. 

Tentang pertemuan dua sahabat lama itu, ternyata tak hanya mengundang kekaguman saya. Member lain yang bahkan sekarang tidak tinggal di Jogja pun, merasakan hal yang sama. Seperti dikatakan member bernama Irawan Wan ini. Ia menulis komentar, "Saya orang luar jogja aasli wonosobo.. salut sama ICJ.. mbaca komenya sampe merending bro.. ini salah satu yg ku suka dri jogja.. salam anak rantau buat ICJ." 

Member lain, Chamdan Maulana menulis, "Subhanallah 30 th lost kontak dan bisa ketemu lagi berkat ICJ cuman 2 hari. jooos." Sementara Fatim Mamanya Syifa juga tak mau ketinggalan menuliskan komentarnya. "Icj pancen joooosssss......opo wae bisa dimudahkn lwt icj....pertahankn kekompakn n saling bantu.....#SAG." tulisnya.

Senada dengan Irawan Wan pemilik akun Firyal Orlin Zakauha juga mengungkapkan kekagumannya terhadap ICJ. 

"Saya cm bisa geleng2 kepala (respeknya luar biasa) dgn group ini,,,sy bukan org jogja,,tp sy suka." tulisnya. 

Sementara saya sendiri, hanya mampu membaca komentar-komentar mereka, sembari tersenyum dan mengusap mata yang tidak tahu sejak kapan telah berair. *Halah drama Cok!

Mengakhiri catatan ini, berikut saya kutipkan komentar dari si empunya hajat, Ahmad Revi Nasution terkait hasil akhir pencariannya di grup Fesbuk ICJ. 

"Assalamualaikum... maaf semua kalau saya slow respon. Untuk update trakhir sahabat bpak saya sudah ketemu dengan bantuan mbk Kris Sanggi. Ini ibu Rini sudah minta kontak bpaka saya melalui mbk diatas. Saya sangat berterimakasih kepada semua admin dan memeber ICJ yg ikut berpartisipasi dalam "kasus" ini. Insha allah minggu depan saya mau merapat ke kediaman "IBU MAMAT" dan sahabat2 bapak saya." tulis Ahmad Revi








Air Adalah Sumber Kehidupan

Air Adalah Sumber Kehidupan (Sumber gambar Pinterest)

www.daroelazis.com ~ Benar kata plakat-plakat di pinggir sungai itu. Air adalah sumber kehidupan. Tiga hari yang lalu aku benar-benar membuktikannya, pada tubuhku sendiri. Aku nyaris jatuh sakit tersebab kurang minum air putih. Penyebabnya sepele, aku malas mengambil air putih yang padahal sudah banyak tersedia di dapur. Ditambah lagi kemudian, ketika makan, aku jarang memesan air putih sebagai minuman, melainkan es jeruk atau es teh.

Akibatnya, pagi itu ketika bangun dari tidur kepalaku kliyengan. Badanku panas dingin.

Aku pernah terserang radang. Itu terjadi kira-kira empat tahun yang lalu. Sampai membuatku terbaring berhar-hari. Bahkan karena tak kunjung sembuh, aku akhirnya pergi ke dokter. Sesuatu yang baru kulakukan untuk pertama kalinya di sepanjang hidupku. Oleh dokter aku dinasihati agar banyak minum air putih. 

Ya. Air putih. Air bening. 

Dan benar, setelah minum banyak air putih dan beristirahat cukup, aku sembuh.

Menemukan pola

Rasa sakit yang kuderita kemarin langsung bisa kudiagnosis tanpa harus pergi ke dokter ataupun gugling di internet. Sebab aku merasa telah mengenal tubuhku sendiri. Lagi pula, ini karena polanya nyaris sama dengan yang kualami dulu. Kurang istirahat dan kurang minum air putih.

Maka kemarin, aku cepat-cepat mencegah rasa sakitku agak tidak semakin parah; dengan minum banyak air putih. Hampir dua liter kalau nggak salah. Dan akibatnya tentu kau tahu, aku harus bolak-balik ke kamar mandi. Tapi itu lebih baik ketimbang harus masuk rumah sakit karena aku tak punya kartu BPJS dan payah kalau disuruh menelan pil. Haha 

Tak cukup dengan itu, aku juga menghajar tubuhku dengan buah. Aku membeli apel dan pepaya. Dan karena lidah masih cukup bersahabat, apel dan papaya itu pun kumakan dengan lahap. Habis tak tersisa. (Iya, aku memang doyan!)

Selanjutnya, waktunya istirahat. Aku mengalokasikan waktu lebih banyak untuk merebahkan diri, dengan tenang.

Eh, sebelum itu aku kerokan dulu ding. Ini seperti sudah menjadi syarat mutlak. Tidak bisa tidak. Kalau mau sembuh, dalam kamusku, ya harus kerokan. Kerokannya disiasati pada malam hari, sebelum tidur. Karena lagi-lagi aku percaya satu hal ini : sakit itu datangnya pagi hari dan perginya pun pada pagi hari pula. Karena tak suka dikerokin orang, kecuali emak, maka aku kemarin kerokan sendiri. Dada saya hajar. Tengkuk juga. Mirip seperti habis dicakar macan.

Dan jreng……………..paginya saya sembuh.

Pengalaman terserang radang akhirnya membuatku menemukan pola bagaimana penyakit itu datang dan pergi. Ia juga menyadarkanku pentingnya memahami pola. Ya. kurasa semua hal di dunia ini memang sudah ada polanya. Ya gitu-gitu aja. Dan orang-orang yang telah berhasil memahami pola, biasanya, akan memiliki tingkat sensitifitas yang tinggi terhadap dirinya, lingkungannya, dan bahkan dunianya. Sehingga dengan demikian, ia akan tahu apa yang harus dilakukan ketika sesuatu hal terjadi. Bahkan bisa tahu sebelum hal itu terjadi. Bukan karena sakti, melainkan karena telah mengenal polanya.

Berdamai Dengan Matematika dan Pertanyaan "Minumnya Apa?"

Karena alasan itu pulalah, kini aku mulai berdamai lagi dengan Matematika. Sesuatu hal yang selama lebih dari tujuh tahun belakangan ini sangat kubenci. Matematika mengajarkan ilmu dasar tentang bagaimana memahami pola. Tidak bisa tidak, aku harus kembali menggelutinya.

Tak hanya itu, kini aku juga berjanji pada diriku sendiri, untuk kemudian ketika aku makan di luar, aku harus tegas meminta air putih sebagai minumannya. Bukan yang lain.

Paling-paling risikonya bakalan dikatain pelit, ngirit, atau apalah! Atau kalau tidak, paling ya cuma dicemberutin sama pedagangnya. Dan itu rasanya sakit. Tapi tidak berdarah! Haha

Bodo' amat lah!

Sedot WC

www.daroelazis.com ~ Sedot WC. Dua kata tadi pasti sangat familiar di mata penduduk perkotaan. Iklan tersebut biasa ditempel pada tiang-tiang listrik. Sementara kita tahu, di wilayah perkotaan, tiang listrik seakan telah menjadi kebutuhan utama dan menjadi penopang tegaknya sebuah kota. Menyitir sebuah pepatah, iklan sedot WC dan tiang listrik dapat diungkapkan begini : di mana ada tiang listrik di situlah ada iklan sedot WC. Bahkan pada satu tiang bisa tertempel beberapa iklan yang mungkin memang beda perusahaan.

Iklan Sedot WC
Iklan Sedot WC (Dok.pribadi)

Di antara sekian banyak iklan jalanan, jujur iklan sedot WC ini adalah yang paling saya suka. Sederhana, eye catchy, tandas, dan tentu saja persebarannya ada di mana-mana. Hampir merajai setiap sudut kota.

Ada beberapa hal yang menjadikan iklan tersebut menarik, selain persebarannya yang begitu luas hingga ke pelosok perkampungan. Yakni pemilihan jenis huruf, warna, dan ukuran serta kontrasnya.

Huruf yang digunakan biasanya jenis Arial atau Arial Black. Sedangkan untuk pemilihan warna, sepertinya warna biru dan hitam telah menjadi warna favorit. Memang ada sebagian beberapa iklan yang menggunakan warna merah dan hijau, saya pernah melihatnya beberapa kali. Namun secara kuantitas, saya rasa warna biru dan hitam adalah yang paling banyak digunakan.  Pemilihan warna biru dan hitam pada kertas hvs ukuran A4, menjadikan iklan ini mudah semakin terlihat dan mencolok karena kontrasnya menjadi lebih pas. 

Kata “Sedot”, “WC”, “Buntu”, atau "Mampet" sengaja ditonjolkan, ukurannya jauh lebih besar dari kontak pengiklan. Ukurannya berkisar pada angka 140-170. Dan saya rasa itu merupakan pilihan tepat, sebab secara tidak langsung iklan tersebut tengah menarasikan sebuah permasalahan (yang sebenarnya sangat pelik!) yakni WC yang buntu atau mampet berikut solusi jitu yang ditawarkan (disedot oleh mereka).

Selama ini barangkali Anda kurang begitu memerhatikan iklan tersebut. Namun setelah membaca tulisan ini, cobalah untuk memerhatikannya. Syukur-syukur Anda mau memotretnya. Jangan terlalu acuh, karena bisa jadi suatu saat Anda membutuhkannya. 

Atau kalaupun tidak butuh, minimal itu akan membuat Anda sadar bahwa di tempat tinggal Anda telah penuh dengan sampah visual. Itu!

Setelah Buang Air (Kecil/Besar), Harap Disiram Sampai Bersih

Poster Kakus (Dok.Pri)

www.daroelazis.com ~ Poster tersebut biasa dipasang di kakus-kakus umum seperti SPBU, masjid, rest area, kafe,  rumah makan, dan lain semacamnya. Saya yakin, hampir sebagian besar orang pasti pernah atau bahkan sering melihatnya. Namun saya tidak yakin, mereka benar-benar membaca dan memerhatikannya atau tidak. 


Terkadang poster tersebut juga memuat kalimat agak panjang. Seperti peringatan agar pengguna kakus tidak membuang tisu, punting rokok, dan bekas pembalut secara sembaranga-termasuk membuangnya ke dalam lubang kakus-, melainkan ke tempat sampah yang telah disediakan. Jika sudah demikian, maka kita akan segera bisa mengerti berarti kadar permasalahan di kakus tersebut telah sangat keterlaluan dan akut.  

Namun hanya melihat dari satu sisi saja, saya rasa kurang adil juga. Karena saya yakin, kelalaian pengguna kakus bisa juga disebabkan oleh faktor lain, seperti pemasangan poster yang kurang tepat. Seperti yang akan kita bahas kali ini.

Setelah sekian lama menjadi pengamat poster perkakusan, saya menemukan ada banyak sekali poster kakus yang cara memasangannya kurang sangkil dan mangkus. Misalnya ditempel pada sisi samping gantungan tas, di atas ember atau bak air, atau di tempel di belakang pintu. Tentu itu sebuah kesalahan, karena kemungkinan untuk terbaca akan menjadi sangat kecil. Mungkin karena hal itulah, pengguna kakus menjadi sering lalai.

Agar lebih tepat sasaran, poster hendaknya dipasang menghadap tongkrongan kakus, sehingga dapat terlihat dengan jelas oleh pengguna ketika mereka sedang melancarkan aksi. 

Namun itu saja saya rasa belum ideal. Terutama jika dikaitkan dengan kebiasaan kencing berdiri kaum laki-laki. Sehingga sebagai penyempurnaan, dalam satu ruangan kakus perlu dipasang dua poster. Satu di depan tongkrongan, satu lagi di belakangnya.  

Sudah cukup? 

Belum. Selain itu, kita juga masih harus benar-benar mengepaskan tinggi rendahnya titik pemasangan. Untuk poster di depan tongkrongan, hendaknya dipasang setinggi 1 (satu) meter dari lantai kakus. Karena biasanya saat membuang hajat, pandangan mata akan naik sekitar 30 derajat dari garis lurus (ya, walaupun saat hajat keluar, sesekali pasti mata akan tertarik untuk melihatnya sih. Tenanglah, itu bukan bagian dari masalah.). Sedangkan untuk poster yang dipasang di belakang tongkrongan, hendaknya dipasang tidak lebih dari 1,5 meter dari lantai. Atau perkirakan saja poster tersebut setinggi dada orang dewasa. Karena biasanya, sesaat setelah menyaksikan keluarnya hajat dan lalu bergidik, kebanyakan orang akan mengangkat pandangan dan menatap ke depan. Saat itulah, poster akan terlihat dan terbaca jelas oleh mata.

Nah, jika kebetulan saat ini Anda sedang (berencana) ingin membuat poster semacam itu, saya harap Anda sudi memerhatikan hal-hal berikut. 

Pertama, ketiklah tulisan pada kertas dengan orientasi  tidur (landscape), agar tersedia ruang yang cukup lebar untuk Anda menuangkan tulisan. Untuk pemilihan ukuran kertas sih bebas. Mau A4 atau F4 terserah Anda. Asal jangan B5. Apalagi 36 C. Kegedean nanti.

Kedua, untuk judul, gunakan huruf jenis Cooper Std Black ukuran 48. Jangan lupa, bubuhkan dua tanda seru di belakang kata “Perhatian” sebagai penegas. 

Ketiga, untuk poin-poin detilnya, gunakan huruf jenis Cooper Black ukuran 20, agar tulisan dapat terbaca dengan jelas oleh pengguna kakus. Penggunaan huruf jenis Piaybill, Lucida Calligraphy, Agency FB dan Calibri (seperti yang sudah otomatis di komputer/laptop Anda) sangat tidak disarankan. Karena jenis huruf tersebut terlalu mepet dan nggak eye catchy. Serta sangat membosankan!

Keempat, sebagai pengarah, gunakan bullet ceklis (hindari penggunaan bullet kotak, bulat, atau panah!), agar alam bawah sadar pengguna dapat langsung merespon perintah bahwa poin-poin tersebut harus benar-benar dilakukan, dengan sebenar-benarnya.

Kelima, tulisan tidak perlu dibingkai. Biarkan mereka bebas. Agar poster terkesan gede dan memancing mata untuk terus melihat.

Jika kelima hal di atas sudah Anda selesaikan, selanjutnya, Anda bisa segera mencetaknya. Oh iya, agar poster bisa lebih awet jangan lupa untuk melaminating/mengepresnya. 

Setelah poster jadi dan siap untuk dipasang, perhatikanlah kembali poster tersebut. Bacalah kembali kalimat-kalimatnya. Jangan sampai ada yang salah. Bukan apa-apa, ini hanya untuk berjaga-jaga saja kalau-kalau ada polisi Ejaan Bahasa Indonesia yang kebetulan sedang kebelet dan buang hajat di sana.

Sebelum memasang, jangan lupa berdoalah semoga poster tersebut bermanfaat adanya. 

Dan sebagai penutup, saya ingin mengucapkan kata "SELAMAT!" untuk Anda, karena telah berhasil mengukur sejauh mana perjalanan peradaban kita. Ya, melalui poster itu secara tidak langsung Anda sudah mendapatkan jawabannya.
Bahkan untuk menyiram kotorannya sendiri pun, masih harus diingatkan. Dan parahnya, itu belum mampu menjamin kakus akan bebas dari aroma kencing dan tahi serta puntung rokok, tisu, dan pembalut. 

4 Kecenderungan Orang Indonesia di Masa Kini

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ternyata semakin mempertegas kecenderungan orang Indonesia. Jika dulu kecenderungan tersebut hanya tersembunyi di balik tirai kehidupan yang tradisional dan terbatas, modernitas telah mengubahnya menjadi semakin terbuka, frontal, dan bebas. 

Hal itu akan dengan mudah kita temukan di media sosial, grup obrolan, dan berbagai situsweb. Ketiga media tersebut benar-benar banyak mengubah kebiasaan dan pola pikir, pola laku, dan pola rasa orang Indonesia. Hal-hal yang dulu tabu dan privat, kini bisa dengan mudah mencuat ke publik. Sebaliknya, hal-hal yang dulu dianggap lazim, kini kerapkali ditentang habis-habisan oleh kebanyakan orang.

Sekurang-kurangnya ada 4 kecenderungan orang Indonesia yang semakin terlihat di era 'dunia dalam genggaman' ini. Di antaranya adalah semakin gampang terbawa perasaan atau yang lebih populer dengan sebutan 'baper', semakin senang bercanda, semakin gemar mem-bully, dan mudah terpengaruh tanpa penyaringan dan pelibatan akal sehat.


1. Orang Indonesia di Masa Kini Jadi Gampang Terbawa Perasaan 

Baper/Ilustrasi via www.ftxs8.com

Sejak dulu orang Indonesia memang dikenal lebih banyak melibatkan rasa dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Namun hal tersebut menjadikan mereka semakin bijak, halus, dan tak banyak bicara. Seperti misalnya mereka lebih lembut terhadap alam sekitar dan makhluk-makhluk tak kasat mata yang juga hidup di sekitarnya. Melibatkan perasaan dalam setiap aktivitas kehidupan memang penting untuk dilakukan, tetapi perlu disadari jangan sampai kemudian pelibatan perasaan menjadi lebih dominan ketimbang pikiran.

Seperti yang terjadi sekarang ini. Pelibatan perasaan semakin mendominasi kehidupan orang Indonesia. Mereka bukan lagi sekadar melibatkan perasaan, tapi sudah sampai pada taraf terbawa perasaan. Terhanyut. Terbawa arus. Artinya, yang bersangkutan sudah tiada lagi punya kuasa untuk mengatur perasaannya sendiri. Karena perasaannya terus-menerus dikontrol oleh keadaan di luar dirinya, yakni oleh media sosial, artikel di internet, dan meme-meme.

Tak ada jalan lain ketika seseorang sudah terbawa perasaan, maka segala yang dirasa harus diungkapkan. Itulah yang menjadikan mereka semakin liar, kasar, dan frontal. Hal itu bisa kita temukan dengan mudah pada tiga jenis media yang saya sebutkan di muka. 

Media sosial seperti Facebook yang oleh Zuckerberg dikehendaki menjadi ruang untuk mengungkapkan pikiran si empunya akun, masih sering digunakan sekadar untuk mengungkapkan perasaan.

Situsweb-situsweb besar yang seharusnya bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan, sampai kini justru banyak yang hanya menyajikan konten-konten baper. 

Instagram yang seharusnya menjadi media berbagi foto-foto istimewa dengan keterangan seperlunya, justru digunakan untuk menyebarkan meme-meme yang menjurus ke arah sex bebas, sentimen SARA, dan lain sebagainya.

Dulu pertanyaan 'kapan nikah?' tak pernah dipermasalahkan. Namun kini, pertanyaan tersebut telah berubah menjadi sesuatu hal yang tabu untuk dipertanyakan.

Dulu status ‘lajang’ atau ‘jomblo’ juga tidak terlalu dipermasalahkan. Begitu juga dengan status ‘mantan’. Namun sekarang, kata-kata tersebut terasa begitu sensitif dan menyeramkan. 

Dampak terburuk dari kecenderungan ini akan bisa dibaca pada poin empat. 


2. Orang Indonesia di Masa Kini Jadi Semakin Senang Bercanda


Bercanda/ ilustrasi via Comedyquotes


Kecenderungan orang Indonesia memang senang bercanda. Humor telah menjadi bagian dari kehidupan kesehariannya. Sebagai bukti tengoklah misalnya adanya Mop Papua, Opera, pagelaran Wayang, dan Ludruk, yang kesemuanya sarat dengan humor dan lelucon. Bahkan ceramah agama pun tak luput dari selipan humor. 

Dan kini gairah terhadap humor telah semakin terfasilitasi dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Hasilnya, barangkali Anda sudah melihatnya sendiri. Berapa jumlah kiriman meme-meme, cerita, dan gambar lucu yang Anda terima saban hari?

Coba periksalah kembali meme-meme, gambar-gambar, dan cerita-cerita itu. Maka Anda akan menemukan fakta bahwa kebanyakan humor-homor tersebut hanya merupakan bentuk lain dari ungkapan perasaan. Bukan humor hasil dari ungkapan pemikiran.


3. Orang Indonesia di Masa Kini Jadi Semakin Senang Mem-bully



Mengolok-olok/ Ilustrasi via Emaze


Kecenderungan untuk terlalu banyak melibatkan perasaan dan terlalu suka bercanda, pada akhirnya dapat melahirkan kecenderungan baru. Yakni mulai gampang mem-bully. Celakanya, bully-an tersebut biasanya dimaksudkan untuk lelucon atau candaan.

Maka jangan heran jika kemudian seorang anak kecil yang kepleset lidah ketika berbicara dengan presiden pun akhirnya jadi bulan-bulanan orang Indonesia di media sosial. Dianggapnya itu suatu hal yang lucu.

Maka jangan heran jika kini status ‘jomblo’ menjadi selayak aib yang sangat memalukan. 

Maka jangan heran jika kemudian kicauan seorang mantan presiden menjadi bulan-bulanan netizen.

Sekilas perbuatan ini, yakni mem-bully dengan dalih melucu, memang terkesan mengasyikkan. Namun percayalah, ama-lama itu akan mengikis empati, rasa hormat, dan norma yang seharusnya Anda junjung tinggi.


4. Orang Indonesia di Masa Kini Jadi Semakin Gampang Terpengaruh dan Diprovokasi

Gampang diprovokasi/ Ilustrasi via Linkedin

Kemudahan yang diberikan oleh produk-produk kemajuan teknologi telah membuat kita menjadi mudah menyukai, mengomentari, dan membagikan sesuatu dari orang lain kepada orang lainnya lagi. Artinya, peluang keterpengaruhan kita terhadap apa yang dibagikan orang lain menjadi semakin besar. 

Semakin hari kita dihadapkan pada hal yang sama dan berlimpah, maka tak pelak kita akan terus-menerus terpengaruh dengan berbagai hal yang muncul di media sosial. Hingga akhirnya tertanam di alam bawah sadar. Maka tak perlu heran jika kemudian isu Pilgub DKI Jakarta benar-benar berhasil menyedot perhatian dan energi sebagian besar rakyat Indonesia. Ketahuilah, itu semua karena keterpengaruhan. Karena orang Indonesia di masa kini semakin gampang terpengaruh dan diprovokasi.

Dan yang selanjutnya terjadi adalah : kita jadi kurang bisa berpikir jernih dalam menyikapi sesuatu, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Karena segala hal sudah telanjur dibaperin, dianggap lucu, dan jadi bahan bully-an!

Tentang Hidup Bahagia di Hari Tua : Mungkinkah Dapat Terwujud Tanpa Kita Menyicilnya Sedari Muda?

Bulan Januari lalu, tepatnya pada hari ke-26 selepas Magrib, menjadi momentum titik balik saya sebagai seorang anak. Bermula dari bertukar kabar, bincang-bincang ringan, dan bercanda dengan orangtua di rumah melalui telepon, saya akhirnya memperoleh sebuah kabar ‘lain dan baru’ -untuk tidak saya katakan buruk atau kurang menyenangkan. 

Mulanya, kepada saya, Bapak dan Ibu di rumah berkabar dalam keadaan sehat. Pun demikian dengan saya, berkabar kepada mereka bahwa kondisi saya di Jogja (berkat doa mereka) juga dalam keadaan sehat. Obrolan berlanjut dan saya mengutarakan rencana untuk mengajak saudara-saudara kandung di kampung arisan hewan qurban pada lebaran Idul Adha tahun ini. Saya berencana berqurban untuk mereka berdua (semoga Allah memberi kemudahan. Aamiin). Dengan nada bercanda (walau dari lubuk hati terdalam memang ingin mewujudkannya!), saya juga menyinggung soal tabungan umrah untuk kedua orangtua saya. 

Pada saat menyinggung soal umrah itulah, Ibu bilang, “Apa ya mungkin, sekarang Bapak sudah nggak sehat kayak dulu.” ujarnya lirih. Tersirat keraguan dalam nada bicaranya. 

Deg. 

Jantung saya seakan berhenti untuk beberapa saat. Jujur, saya belum begitu siap menerima kabar tersebut. Selama ini, saya tahu kondisi Bapak baik-baik saja. Selalu sehat, ceria, dan tak punya riwayat penyakit yang aneh-aneh dan berat.

Dari situlah segalanya mulai terungkap. Di usianya yang sudah mendekati angka 78 tahun, dalam tiga bulan ini ternyata Bapak sering merasa kesulitan saat hendak buang air kecil. Selain terasa sakit, hanya sedikit sekali air seni yang mampu ia keluarkan. Sementara dorongan untuk buang air kecil saat ini lebih kerap datang ketimbang biasanya.


“Kata dokter Made, aku kena prostat. Biasa penyakit tua,” ujar Bapak ketika kemudian kami berbincang lebih serius,”Tapi aku sebenarnya juga nggak apa-apa. Sehat. Cuma kalau pas kencing keluarnya dikit dan agak sakit.” lanjutnya meyakinkan saya (dan mungkin juga dirinya). Ia tertawa. Saya mengikutinya, dengan rasa yang sungguh berat.


Tak hanya kabar tentang Bapak, kabar ‘lain dan baru’ tentang Ibu pun akhirnya juga sampai ke telinga saya. Ibu saya, yang kini usianya sudah menginjak angka 68 tahun, juga mulai merasakan ada yang tidak beres pada tubuhnya. Lutut kanannya, sebagaimana pengakuannya pada saya, seperti berair. 

“Kadang terasa kaku dan linu. Jadi kalau pas tidur, kakinya harus diangkat dan disandarkan di tembok biar nggak sakit.” Keluhnya. Saya langsung mencari kemungkinan penyebabnya di internet. Dulu Ibu memang pernah terpeleset saat jalan hingga menyisakan rasa sakit yang terkadang muncul pada lututnya.

Selama ini saya tak pernah memikirkan hal itu. Mereka, saya tahu, adalah sosok yang senantiasa sehat, kuat, dan punya daya tahan tubuh yang tinggi. Selama hampir 25 tahun hidup sebagai anak kandungnya, saya tak pernah menyaksikan mereka sakit serius. Paling-paling hanya pusing, masuk angin, flu, dan pegal-pegal yang pasti akan sembuh dengan minum obat warung, dikerok, ataupun dipijit. Tak pernah sampai dirawat di rumah sakit ataupun puskesmas.  Namun ternyata semua itu membuat saya terlena dan abai pada kenyataan lazim bahwa setiap tubuh mempunyai batas kemampuan dan daya tahannya masing-masing. Pun demikian dengan tubuh kedua orangtua saya.


Alarm Usia

Tak pelak, setelah mendengar kabar itu pikiran saya pun jadi ke mana-mana. Saya yang dulu berpikir normal dan lempeng, bahwa kelak kedua orangtua saya akan menua sebagaimana semestinya dan tetap sehat-sehat saja, kini mulai berubah. Saya mulai gelisah. Hal itu pula yang kemudian membuat saya tersadar, menjadi tua bukanlah persoalan sederhana. Ada berbagai persoalan pelik yang mau tak mau harus dihadapi. Di antaranya yang paling lazim adalah soal kesehatan. Kalaupun misalnya kebutuhan ekonomi sudah cukup terpenuhi dan punya cukup banyak waktu misalnya, namun ternyata energi dan kekuatan tubuh telah menurun. 

Secara usia, kedua orangtua saya bisa dikatakan telah mendapatkan bonus yang cukup banyak. Pun demikian dengan kondisi ekonomi, yang walaupun tidak berlimpah, tapi telah mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sehingga yang mereka butuhkan saat ini (mungkin) adalah tubuh yang senantiasa sehat, anak dan cucu yang lebih dekat, perhatian dan kasih sayang yang lebih hangat, dan ketenteraman hati dan jiwa yang bisa mereka peroleh melalui ritual ibadah atau pendekatan diri kepada Tuhan.

Ketika saya menuliskan cerita ini, macam-macam pikiran dan rasa gelisah kekhawatiran masih menghantui saya. Jika dikatakan dengan jujur, saya sebenarnya belum merasa siap dengan kenyataan bahwa kedua orangtua saya telah semakin menua dan menurun kesehatannya. Sementara saya merasa belum cukup berbakti kepada mereka. Sempat terbersit untuk segera pulang ke kampung halaman, namun tugas dan cita-cita di Jogja masih belum tunai. Alhasil, yang mampu saya lakukan saat ini hanyalah berdoa terus-menerus untuk kesehatan mereka berdua.

Momen 26 Januari benar-benar menjadi alarm bagi saya, baik sebagai seorang anak maupun sebagai orang yang masih berusia muda. Sebagai anak, artinya saya harus meningkatkan perhatian pada orangtua saya. Sedangkan sebagai orang yang masih muda, hal tersebut menjadi pengingat bahwa kelak saya juga akan mengalami hal yang sama : masa tua. Lengkap dengan segenap serba-serbinya.

Tak cuma sampai di situ, kini setiap kali mengingat mereka bayangan tentang diri saya di masa mendatang pun jadi lebih sering muncul. Saat ini saya baru berumur 24,5 tahun. Masih sangat produktif dan sehat. Namun apakah kelak saya akan panjang umur seperti mereka? Jika pun iya, apakah pada hari tua nanti kehidupan saya cukup terjamin baik secara ekonomi maupun kesehatan? Atau ketika  saya meninggal, akankah saya hanya ‘merepotkan’ orang-orang yang saya tinggalkan karena tiadanya tabungan yang saya miliki? 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu membutuhkan jawaban dan membuat saya semakin tersadarkan betapa pentingnya mempersiapkan segala hal dari sekarang, sebagai bekal menapaki hari tua. Hari tua adalah hari di mana kita sudah tidak produktif lagi. Hari di mana sisa-sisa usia seharusnya lebih kita gunakan untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan menyiapkan sebanyak-banyak bekal untuk kehidupan selanjutnya. Hari di mana kita, seharusnya, lebih banyak memperoleh kasih sayang dan perhatian dari anak dan cucu. Jika saat pertama kali kita menatap dunia adalah dengan tangisan, maka sudah selayaknya di masa-masa akhir kita hidup di dunia selalu dipenuhi dengan senyuman. Kebahagiaan.  Harapan yang sama semoga juga berlaku bagi Anda yang sedang membaca tulisan ini. Kita semua pasti ingin hidup bahagia. Hal itu pulalah yang mendasari pemilihan judul blog saya ini sejak awal 2017 lalu. Karena saya sadar, satu-satunya hal yang didambakan setiap manusia di dunia ini adalah hidup bahagia, sampai di hari tua.

Bahagia di Hari Tua Bersama BPJS Kesehatan
Potret Bahagia di Hari Tua (sumber gambar : kartu pos. Penyuntingan bingkai oleh penulis) 


Bagi saya pribadi, hari tua yang membahagiakan adalah saat kita telah cukup aman secara ekonomi, sehat jasmani dan rohani, tidak kehilangan teman dan relasi, senantiasa mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari keluarga, dan bisa lebih fokus mendekatkan diri pada illahi. Dan semua itu saya rasa bukanlah sesuatu hal yang datang dengan sendirinya. Melainkan harus dipersiapkan sedini mungkin. Ibarat kata, sekarang menanam esok menuai. 

Ya. Segala hal yang menunjang kebahagiaan kita di hari tua harus kita tanam dari sekarang. Mulai dari mempersiapkan tabungan untuk hari tua, menjaga pola hidup sehat, memperbanyak teman, menjaga hubungan baik dengan keluarga, serta banyak belajar ilmu dunia dan agama. 

Namun kali ini tabungan di hari tua akan menjadi fokus pembicaraan kita, mengingat jika merujuk pada teori kebutuhan yang diungkapkan Abraham Maslow, kebutuhan akan fisiologi dan rasa aman menjadi yang utama dalam kehidupan manusia. Barulah kemudian dilanjutkan dengan pemenuhan kebutuhan kasih sayang, penghargaan, dan aktualisasi diri. 

Hidup Aman dan Terjamin Dengan Adanya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) 

Ketika seseorang telah mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, maka selanjutnya ia akan membutuhkan rasa aman. Beberapa di antaranya adalah perlindungan dari hal-hal seperti penyakit, bahaya, ataupun musibah. Singkat kata, mereka membutuhkan kehidupan yang terjamin dan stabil.

Terkait hal ini, negara kita sebenarnya sudah memiliki program yang menjamin kehidupan sosial rakyatnya, mulai dari lahir hingga meninggal dunia. Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) menjadi dasar program jaminan sosial ini, yakni meliputi jaminan kesehatan (yang diselenggarakan secara khusus oleh BPJS Kesehatan), jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan jaminan kematian. Kesemuanya dijalankan berdasarkan prinsip gotong royong (asuransi sosial/subsidi silang) dan tabungan wajib, sangat sesuai dengan karakter dan budaya kita sebagai masyarakat Indonesia. Kaitannya dengan bekal menghadapi masa tua, program Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun adalah yang paling relevan untuk kita bicarakan. Mari kita ulik!

Jaminan Hari Tua

JHT merupakan program jangka panjang yang dimaksudkan untuk memberi kepastian tersedianya sejumlah dana bagi tenaga kerja pada saat yang bersangkutan tidak produktif lagi. Yakni saat memasuki masa pensiun, berhenti bekerja, terkena PHK, meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia. Adapun nilai manfaatnya ditentukan berdasarkan seluruh akumulasi iuran yang telah disetorkan, ditambah hasil pengembangannya. Jadi perlu dipahami, program ini bukan hanya sebatas tabungan, melainkan ada nilai investasi di dalamnya di mana peserta juga akan menerima untungnya. 

Manfaat JHT akan cair saat peserta memasuki usia pensiun (56 tahun). Atau jika dalam perjalanannya peserta membutuhkan dana tersebut, bisa dicairkan sebagian yakni 10 persen, dengan syarat kepesertaan sudah 10 tahun atau jika digunakan untuk keperluan pembayaran perumahan, maka dana bisa dicairkan sebanyak 30 persen.

Namun apabila peserta meninggal dunia sebelum mencapai usia pensiun, ahli warisnya yang sah tetap berhak menerima manfaat JHT. Ahli warus yang dimaksud meliputi suami/istri dan anak. Atau jika peserta tidak suami/istri/anak, maka dapat diberikan kepada orangtua, saudara kandung, mertua, dan pihak yang ditunjuk dalam wasiatnya oleh pekerja. 

Besar iuran JHT ini dibedakan berdasarkan dua jenis, yakni untuk peserta penerima upah dan peserta bukan penerima upah (BPU). Peserta penerima upah terdiri dari pekerja pada perusahaan, pekerja pada orang perseorangan, dan orang asing yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 (enam) bulan. Sedangkan peserta BPU adalah terdiri dari pemberi kerja (pengusaha) dan pekerja mandiri seperti dokter, pedagang, tukang ojek, nelayan, petani, dan lain semacamnya.

Untuk peserta penerima upah, iuran ditetapkan sebesar 5,7% (lima koma tujuh persen) dari upah, dengan ketentuan 2% (dua persen) ditanggung oleh pekerja dan 3,7% (tiga koma tujuh persen) ditanggung oleh perusahaan. Sedangkan untuk peserta BPU menurut Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2015 ditetapkan sebagaimana dirinci dalam tabel berikut.

Besaran Iuran Program JHT Bukan Penerima Upah


Satu poin penting dari program JHT adalah kita mendapatkan sejumlah uang saat memasuki usia pensiun. Dari pengalaman saya berinteraksi dengan para tetangga yang bekerja sebagai karyawan perusahaan dan PNS, biasanya uang yang mereka dapatkan itu kemudian digunakan untuk membeli kebun, ladang, atau sawah. ataupun membangun (tempat) usaha baru seperti toko, rumah toko, kos-kosan, dan lain sebagainya. 

Tentu itu merupakan sebuah pilihan logis. Sebab selain bisa menjadikan uang tidak cepat habis, sawah, kebun, dan ladang juga bisa menjadi investasi yang akan terus naik nilainya. Tak hanya itu, dengan adanya lahan pertanian baru, mereka pun akan dapat tetap aktif bergerak, bekerja, dan bertemu dengan lebih banyak orang. Sebab berhenti bekerja, bagi sebagaian orang tua di Indonesia, sering kali justru membuat mereka stres dan rentan terserang penyakit. Itulah mengapa banyak di antara mereka yang walaupun sudah berusia lanjut namun tidak mau berhenti bekerja. Bahkan ada di antara mereka yang secara ekstrim tidak mau menerima pemberian uang ataupun nafkah dari anaknya. Selama mereka masih mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka tak akan pernah minta kepada sang anak. Singkatnya, mereka tetap ingin mengaktualisasikan diri sebagaimana teori yang dikemukakan oleh Maslow.

Selain untuk membeli lahan dan membangun usaha, ada juga yang sejak awal dialokasikan untuk ibadah haji. Tentu ini juga merupakan pilihan logis, yakni sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Tak hanya itu, diakui atau tidak, di Indonesia gelar ‘haji’ dan ‘hajjah’ juga mendapatkan pengakuan penting dalam masyarakat. Sehingga kemudian yang bersangkutan akan terus dianggap dan disegani masyarakat. Singkatnya, mereka pun akan tetap eksis, diakui, dan tentu saja bermanfaat walau usia sudah semakin menua.

Dua contoh di atas saya rasa sudah cukup menjelaskan mengapa program JHT ini begitu penting. 

Jaminan Pensiun

Seperti halnya dengan JHT, Jaminan Pensiun juga diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip gotong-royong dan tabungan wajib. Program ini ditujukan untuk mempertahankan derajat kehidupan yang layak pada saat peserta kehilangan atau berkurang penghasilannya karena memasuki usia pensiun atau mengalami cacat total tetap. Dengan iuran sebesar 3 % dari upah per bulan (2 % ditanggung perusahaan dan 1 % ditanggung pekerja), jaminan pensiun ini diselenggarakan berdasarkan manfaat pasti. Adapun manfaatnya nantinya berwujud uang tunai yang akan diterima setiap bulan sebagai : 
  • Pensiun hari tua, diterima peserta setelah pensiun sampai meninggal dunia;
  • Pensiun cacat, diterima peserta yang cacat akibat kecelakaan atau akibat penyakit sampai meninggal dunia;
  • Pensiun janda/duda,diterima janda/duda ahli waris peserta sampai meninggal dunia atau menikah lagi
  • Pensiun anak, diterima anak ahli waris peserta sampai mencapai 23 (dua puluh tiga) tahun; atau
  • Pensiun orangtua, diterima orang tua ahli waris peserta lajang sampai batas waktu tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 

Tak semua orang masih tetap memiliki kondisi fisik yang kuat dan sehat di usia tuanya. Inilah alasan utama mengapa program Jaminan Pensiun ini begitu penting. Karena bisa menjadi penopang kebutuhan sehari-hari ketika kondisi fisik sudah tidak memungkinkan lagi untuk beraktifitas berat. Dengan demikian, risiko hidup ‘menderita’ di hari tua pun sekurang-kurangnya dapat diminimalkan.

Epilog

Ada sebuah ungkapan populer yang bunyinya begini : untuk mengetahui bagaimana masa depan seseorang, maka lihatlah bagaimana ia hidup di masa kini. Tak perlu menunjuk hidung orang lain, lebih baik ungkapan itu kita arahkan pada diri sendiri. Ya, kita bisa memproyeksikan bagaimana hari tua kita kelak sejak dari sekarang. Yakni dengan melihat pola hidup kita saat ini. 

Sudah cukup sehatkah pola hidup kita? Sudah matangkah pola pemikiran, emosi, dan jiwa kita? Dan terakhir, sudahkah kita menjadi peserta Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun?

Jika sudah, maka segeralah ucapkan kata 'SELAMAT!' untuk diri Anda sendiri. Namun jika belum, segeralah untuk menanam (berinvestasi) dari sekarang. Selagi masih ada kesempatan.

Bahkan andaipun esok hari kiamat tiba, sementara masih ada uang di tangan Anda, maka investasikanlah!



Tentang Kebahagiaan Sejati dan 11 Sikap yang Harus Kita Miliki

www.daroelazis.com ~ Hampir semua orang bisa dipastikan ingin kehidupannya membahagiakan. Walaupun pada kenyataannya rasa susah hati akan turut menyertai. Selayaknya makhluk hidup yang senantiasa diciptakan berpasang-pasangan, rasa bahagia pun agaknya  juga mempunyai pasangan : rasa duka. Hal itu tidak bisa kita mungkiri, sebab telah merupakan garis kodrati.

Kebahagiaan Sejati/Ilustrasi (sumber gambar : possibility)

Berbicara soal bahagia adalah bicara soal rasa. Rasa yang muncul dari dalam hati setiap manusia. Kemunculannya pun tidak serta merta dan dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan. Namun karena menyangkut rasa, maka bahagia yang sejati tidak mungkin berasal dari luar diri, seperti uang, kekayaan, kekuasaan, ataupun ketenaran. Kalaupun itu semua dianggap bisa memunculkan kebahagiaan, hanya sesaatlah rasa itu. Fana. 

Karena rasa bahagia yang sejati hanya muncul dari dalam diri sendiri. Dari hati. Ia muncul melalui sikap hidup yang sesuai dengan tuntutan hidup bahagia. Sikap hidup tersebut dijelaskan secara rinci dan gamblang dalam buku “Hidup Bahagia Cara Sufi”, yang ditulis oleh Sudirman Tebba. Berikut rangkumannya : 


1. Sabar

Rasa sabar adalah upaya menahan diri dari keluh kesah dan rasa benci, menahan lisan dari mengadu dan menahan anggota badan dari tindakan yang mengganggu dan mengacaukan. Itu pengertian sederhananya. 

Secara mendasar, terutama kaitannya dengan kehidupan para sufi, sabar adalah menahan diri dari keluh kesah ketika menjalankan ajaran Tuhan dan sewaktu menghadapi musibah. Sehingga di sini rasa sabar berkait dengan urusan dunia dan akhirat, yang bermuara pada pendekatan diri kepada Tuhan. 

Upaya itulah yang kemudian kita kenal sebagai iman. Dengan iman, setiap kita menjalankan perintah Tuhan ataupun tatkala menghadapi musibah, kita masih tetap akan punya harapan kepada Tuhan. Dan bukankah kita berani hidup karena ada harapan? Sementara sebaik-baik berharap adalah hanya kepada Tuhan. Bukan manusia atau yang lain.

Selain itu, iman juga akan mendorong kita untuk senantiasa berbuat dan bersikap baik. Sementara bukankah perbuatan dan sikap baik itu akan selalu melahirkan rasa senang dan menenteramkan? 

Karena itulah, jika kita dapat bersabar dalam berbuat baik, maka terbukalah satu peluang untuk hidup bahagia.


2. Syukur

Rasa syukur ini tentu saja kita tujukan kepada Tuhan. Karena begitu banyak kebaikan yang kita terima, bahkan tanpa kita minta sekalipun. Dari bersyukur ini, kita akan mendapatkan lebih banyak kebaikan lagi dari Tuhan. Itulah yang akan membuat kita bahagia. 

Tuhan sebenarnya tidak membutuhkan rasa syukur kita, sebagaimana sebenarnya Ia tidak membutuhkan pujian dari kita. Tetapi dengan bersyukur dan memuji-Nya, maka berarti ada ketaatan dalam diri kita. Ada cinta dalam diri kita. Ada prasangka baik kita terhadap-Nya. 

Dan bukankah dengan semua itu, kita akan dapat dengan mudah memperoleh kasih sayangnya?

Menurut Ibnu Qayyi al-Jauziyah, sikap syukur ini terdiri atas tiga tingkatan. Pertama yakni mengakui nikmat dari Tuhan, memuji karena nikmatnya, dan menggunakan nikmat tersebut untuk berbuat baik kepada sesama dan kepada-Nya.

Tingkatan kedua adalah syukur terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan, diwujudkan dengan menahan amarah, menyembunyikan keluh kesah, tetap memelihara sopan santun, dan menempuh jalan ilmu. Tingkatan syukur ini tentu lebih sulit, karena yang disyukuri justru berupa hal-hal yang tidak menyenangkan. Namun di sinilah kesabaran dan keridhaan kita atas ketentuan Tuhan akan teruji. Orang yang sudah memiliki sikap sabar dan ridha, tidak akan mau membedakan antara kenikmatan dan kesulitan, karena sejatinya sama-sama datang dari Tuhan. 

Adapun tingkatan ketiga adalah syukur yang membuat manusia hanya melihat pemberi nikmat, yaitu Tuhan, bukan kenikmatan atau kesulitan yang diterima. Tentu ini jauh lebih sulit dari tingkatan syukur kedua. 


3. Ridha

Ridha berarti senang, suka, rela, menerima, menyetujui, puas, membenarkan, memandang baik, dan semoga Tuhan memberi rahmat. Dalam tasawuf, ridha berarti senang menjadikan Tuhan sebagai tuannya, senang kepada ajaran dan takdirnya. 

Orang yang telah mencintai Tuhan biasanya senang dengan segala hal yang datang dari-Nya. Baik berupa kemudahan-kemudahan maupun kesulitan-kesulitan. Sehingga apa pun yang menimpa dan terjadi pada dirinya, bukan sesuatu yang menimpa itu yang akan ia lihat, melainkan hanya Tuhanlah yang ia lihat. Ia akan selalu merasa senang, ikhlas, berprasangka baik, dan menjadikan itu sebagai salah satu bentuk kasih sayang Tuhan untuknya. 

Terkait hal ini, Tebba mengajak kita untuk belajar dari apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud. 

Sungguh menjilati batu kerikil yang panas lebih aku cintai ketimbang aku mengatakan ‘seandainya itu tidak terjadi’ terhadap sesuatu yang telah terjadi, atau ‘seandainya terjadi’ terhadap sesuatu yang tidak terjadi.

Untuk memiliki rasa itu, dibutuhkan beberapa syarat. Di antaranya kita harus terlebih mengesakan-Nya dan ikhlas menjalankan ajarannya. Jika kedua syarat tersebut telah berhasil ia penuhi, maka barulah ia dapat memunculkan sikap ridha atas segala kehendak dan ketentuan Tuhan atas hidupnya.


4. Ikhlas

Dalam tasawuf, ikhlas berarti melaksanakan ibadah dan segala perbuatan semata-mata karena Tuhan. Baik sebagai bentuk ketaatan seorang hamba maupun sebagai bentuk kecintaan kepada-Nya. Semata-mata agar keduanya semakin dekat. 

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ikhlas memiliki tiga tingkatan. Pertama ialah mengeluarkan penglihatan dari amal, bersih dari imbalan perbuatan, dan menghilangkan rasa puas terhadap suatu perbuatan. Ada tiga masalah yang dihadapi oleh orang yang berbuat amal, yaitu memperhatikan amal, mencari imbalan, dan merasa senang atas amalnya tersebut. Orang yang ingin menghadirkan rasa ikhlas, tugas pertamanya adalah menghilangkan tiga hal di atas ketika berbuat sesuatu, untuk kemudian merengkuh tingkatan kedua.

Tingkatan kedua adalah merasa malu karena walaupun sudah berupaya semaksimal mungkin, namun ia merasa belum banyak melakukan perbuatan baik. Ikhlas pada tingkatan ini meliputi lima hal, yaitu : amal, kesungguhan, merasa malu kepada Tuhan, menjaga diri dari menyaksikan amal, dan melihat amal dari mata air kemurahan dan karunia Tuhan.

Sedangkan tingkatan ketiga adalah mengikhlaskan amal dengan membersihkan amal dari kepentungan diri sendiri atau orang lain. Perbuatan tersebut dilakukan secara lurus, tulus, dan berdasarkan pengetahuan. 


5. Qana’ah

Qana’ah adalah sikap puas dengan apa yang ada, tidak tamak dan meminta terus-menerus. Sikap ini merupakan sikap orang kaya yang sejati. Karena ia tidak pernah meminta melebihi apa yang telah ia terima. 

Namun demikian, dalam hidup ia tetap diwajibkan untuk bekerja dan berusaha. Sikap ini sebenarnya hanya untuk menjaga manusia agar tidak berusaha mencari-cari sesuatu hal di luar yang sudah diterimanya dengan cara-cara yang tidak baik.


6. Raja’

Raja’ berarti berharap, mengharapkan, khawatir dan takut akan sesuatu. Dalam tasawuf, raja’ berarti mengharapkan rahmat Tuhan yang sesungguhnya selalu mengelilingi kita, namun kita jarang memerhatikannya. 

Dengan adanya sikap ini, maka hati kita akan menjadi lebih hidup dan merdeka. Karena kita punya harapan yang besar kepada Tuhan, di masa yang akan datang. Sikap ini juga bisa menimbulkan kondisi hati yang optimistis, lega, suka, dan senang. Orang yang menderita di dunia misalnya, ia akan merasa senang, bahagia, atau setidaknya deritanya akan berkurang kalau ia menggantungkan harapan kepada Tuhan untuk memperoleh keselamatan pada kehidupan selanjutnya. 


7. Cinta

Maksudnya adalah cinta kepada Tuhan dan cinta kepada dunia untuk mewujudkan cintanya kepada Tuhan. Dunia di sini maksudnya adalah sesama manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan segenap isi alam semesta. 


8. Benar

Maksudnya adalah benar dalam perkataan, benar dalam niat dan kemauan, benar dalam tekad, benar dalam menepati janji, dan benar dalam amal perbuatan.  Lawan dari sikap ini adalah sifat dusta, khianat, menipu, dan curang. 

Sikap benar dapat menenangkan hati dan pikiran. Ketenangan hati dan pikiran itulah yang akan membawa kebahagiaan dalam hidup kita. Berbeda halnya dengan kecurangan, kebohongan, khianat, dan penipuan, yang hanya akan menimbulkan kegelisahan, kesengsaraan, dan pada akhirnya membawa kita pada kehancuran.


9. Berani 

Di kalangan sufi, sikap ini meliputi berani hidup menderita, sederhana, atau mencukupkan diri di tengah kehidupan material yang mewah. Karena menurut mereka mencintai kehidupan dunia merupakan masalah pokok yang menimbulkan ketakutan, kegelisahan, kecemasan, dan kekhawatiran. 

Orang yang terlalu mencintai kehidupan dunia seperti harta benda, jabatan, pekerjaan, akan sangat takut kehilangan kenikmatan tersebut. Sehingga kemudian juga akan membawa mereka pada rasa takut berkata benar karena jabatan terancam dicopot atau bisnisnya terganggu. 


10. Istiqamah

Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas mengartikan istiqamah adalah menjalankan semua kewajiban manusia kepada Tuhan. Konsistensi menjadi kata kunci atas penjelasan mengenai istiqamah ini. Yakni konsisten pada jalan yang lurus dan benar dalam niat, perkataan, dan perbuatan. Untuk dapat beristiqamah, seseorang harus mampu bersikap ikhlas, senantiasa bertaubat dan berserah diri kepada Tuhan.  Sikap ini juga sangat menunjang sikap-sikap yang telah disebutkan di muka. Orang yang telah berhasil menjalankan sikap-sikap di atas secara konsisten, maka berarti jiwanya sudah matang. Jiwanya sudah tenang. Hanya orang yang jiwanya sudah matang dan tenanglah yang dapat beristiqamah. Karena itulah, sikap ini akan dapat membawa seseorang pada derajat kebahagiaan.


11. Tawakal

Dalam tasawuf, tawakal berarti berserah diri kepada segala keputusan Tuhan, terutama setelah kita melakukan suatu upaya atau perbuatan. Jadi, tawakal di sini harus didahului oleh upaya untuk memenuhi suatu kebutuhan. 

Sikap ini akan menghindarkan kita dari rasa kecewa, marah, frustrasi, stres, menggerutu, panik, gelisah, sedih, atau menyalahkan orang lain. Yang penting ‘kan sudah berusaha, hasilnya diserahkan sama Yang Di Atas, begitulah prinsip sederhana dalam bertawakal ini. 


Berbahagia Bersama Info Cegatan Jogja

Ilustrasi Info Cegatan Jogja

www.daroelazis.com ~ Seseorang hendak membeli jenset secara online dari Tangerang. Oleh si penjual ia diminta untuk transfer sejumlah uang sebagai uang muka dan barang akan dikirimkan sore itu juga. Untuk meyakinkan calon pembelinya tersebut, si penjual juga telah mengirimkan foto KTP istri dan anak angkatnya. Mungkin karena merasa belum yakin, ia pun kemudian bertanya di grup Info Cegatan Jogja (ICJ) dengan menyertakan tangkapan layar percakapan antarkeduanya, memastikan apakah itu penipuan atau bukan? 


Logo Grup Facebook Info Cegatan Jogja
Logo Grup Facebook Info Cegatan Jogja/ via Facebook.com


Tak butuh waktu lama, komentar dan like pun berdatangan. Ada yang hanya berkomentar  dengan kata ‘up’, 'nyimak', atau ‘umbulke’ agar kiriman tersebut bisa makin populer. Namun banyak pula anggota grup yang memberi saran dan penjelasan panjang. Intinya, banyak yang menyarankan agar rencana pembelian dibatalkan saja karena terindikasi ada unsur penipuan.

Sekilas terkesan sederhana dan remeh memang. Namun bayangkan jika orang tersebut tidak berembug dulu di grup ICJ, dan kemudian benar-benar tertipu! Uang hilang barang pun tak dapat. Bayangkan pula jika yang kemudian tertipu itu adalah kerabat Anda, atau bahkan Anda sendiri! Pasti menyesal bukan kepalang.

Itu hanya satu dari beragam persoalan yang dirembug di ICJ. Selebihnya, mungkin sudah ada ribuan persoalan yang telah terselesaikan atau setidaknya mencuat ke publik, berkat rembug dan interaksi yang dilakukan olah para anggota grup, menyusul kemudian pemberitaan oleh media online.  

Persoalan-persoalan yang dirembug umumnya seputar lalu lintas, birokrasi, utang-piutang, kriminal, berita kehilangan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan. Banyaknya anggota grup membuat setiap kiriman selalu memperoleh respon cepat atau bahkan menjadi viral. Sampai artikel ini ditulis Grup Facebook ICJ sudah memiliki 451, 143 ribu anggota dan setiap hari permintaan menjadi anggota terus bertambah. Namun mereka tampaknya harus bersabar, karena persetujuan bergabung hanya diproses seminggu sekali (Minggu malam atau Senin pagi). 

Bisa dikatakan grup Facebook yang digagas oleh Yantro Sumantri atau yang akrab dipanggil Antok ini merupakan wahana interaktif warga Jogja di media sosial. Melalui ICJ, Anda yang ingin mengeluhkan pelayanan publik bisa segera menyampaikannya, dengan bahasa yang sederhana dan semampunya. 

Melalui ICJ,  Anda yang kehabisan bensin, kebanan, pulang kemalaman dan tidak berani pulang, bisa menyampaikan permintaan tolong agar anggota grup terdekat bisa segera memberikan pertolongan. Semua dilakukan atas dasar sukarela dan tolong-menolong antarsesama warga Yogya.

Melalui ICJ, Anda yang kehilangan barang karena terjatuh, bisa mengumumkannya di sana. Dan insya allah, jika yang menemukan barang tersebut adalah anggota grup, barang Anda akan dikembalikan tanpa mengharap imbalan apa pun. Atau kalaupun barang tersebut tidak kembali, Anda akan panen doa, dukungan, dan bahkan solusi dari anggota grup.

Namun tak hanya sebatas itu. ICJ kini tak hanya menjadi media informasi tetapi juga menjadi media cangkrukan masyarakat Jogja di era digital ini. Karena kerap kali postingan atau komentar-komentar mereka dalam setiap postingan diwarnai dengan guyonan khas masyarakat Yogyakarta. Ndagel tenan pokoknya. Membaca postingan dan komentar-komentar di ICJ, sering kali membuat saya gayeng (larut) dan tertawa sendiri. Kadang tak cukup dengan itu, saya pun tak kuasa untuk tidak menskrisut percakapan tersebut untuk kemudian saya bagikan kepada teman-teman. Dan ternyata mereka juga turut tertawa. Ini artinya, kelucuan masyarakat Jogja di ICJ benar-benar nyata. Bukan hanya penilaian subjektif saya semata.


Wal akhir, di grup Facebook ini kita akan bisa melihat potret wajah masyarakat Yogyakarta yang sesungguhnya;  yang bersahaja, guyub, ndagel (lucu), dan berjiwa sosial tinggi. Dan bukankah kebersahajaan, keguyuban, kelucuan, dan jiwa sosial yang tinggi itulah sebenarnya bisa membuat kita bahagia? 


Salam Aspal Gronjal! 

(Tulisan versi seriusnya telah dimuat di kolom "Pojok Digital" Skh. Kedaulatan Rakyat edisi 9 Maret 2016, hal.16)